Detail Katalog
ID: 4777
Laut Pasang, 1994 / penulis, Lilpudu; penyunting Ikhwan Pahri, Dian Anggraeni
Edisi: Cetakan kesepulih, April 2025
Pengarang:
Lilpudu ; Ikhwan Pahri ; Dian Anggraeni
Lilpudu ; Ikhwan Pahri ; Dian Anggraeni
Penerbit:
Tekad,
Tekad,
Tempat Terbit:
Depok :
Depok :
Tahun Terbit:
2025
2025
Bahasa:
ind
ind
Subjek
Fiksi Indonesia
Deskripsi Fisik:
320 hlm ; 20 cm
320 hlm ; 20 cm
ISBN:
978-623-5953-36-3
978-623-5953-36-3
Nomor Panggil:
895 LIL l
895 LIL l
Control Number:
INLIS000000000004769
INLIS000000000004769
BIB ID:
0010-0925000066
0010-0925000066
Catatan
Tahun 1994 adalah tahun paling menyakitkan bagiku. Bahkan, bagi warga di kampungku. Kejadian yang tak disangka kehadirannya merenggut banyak senyum dan kebahagiaan.
Aku yang keras kepala dan egois seperti Pada peristiwa 2 Juni 1994, aku mendapat balasan atas semua perbuatanku. Malam itu riuh suara air naik dengan cepat ke daratan, teriakan, jeritan, dan reruntuhan barang yang saling berbenturan. Aku bersusah payah meneriaki satu persatu nama ketujuh anakku hanyut diempas air malam itu. yang dicambuk oleh takdir.
Entah sebuah keberuntungan atau justru kesialan. Aku selamat dari peristiwa itu. Sebuah tiang besar menjadi tumpuanku menyelamatkan diri dari kuatnya dorongan air yang semakin naik.
Mataku menerawang jauh ke berbagai penjuru, meski yang kulihat hanya mayat yang terapung dibawa arus. Semua terlihat gelap karena listrik padam. Beruntung cahaya bintang masih sudi memberikan sedikit cahayanya untuk manusia sepertiku.
Di bawah langit malam, tubuh ini sudah kehabisan tenaga. Manusia egois sepertiku hanya bisa menangis menyesali perbuatan pecundang yang telah aku jalani bertahun-tahun. Anak-anakku tidak ada yang pulang satu pun, meski aku sudah berusaha untuk tetap membuka mata, mereka tidak pernah datang. Suaraku nyaris habis, hanya sahutan gemuruh air yang terdengar seperti ledekan di telingaku. Mereka sedang menertawakan sosok Bapak brengsek yang tengah menyesali perbuatannya.
Kalau ditakdirkan untuk merasakan kehilangan yang kedua kalinya, aku jelas lebih memilih ikut mati daripada harus bertahan dan hidup dalam kesengsaraan. Melanjutkan hidup tanpa anak-anak di sampingku sama dengan hidup tanpa nyawa.
Jika sampai terbukti tidak ada yang selamat, aku memohon pada Tuhan untuk cabut saja nyawaku sekarang.
Aku benar-benar menyesal setengah mati. Menyesal karena belum sempat meminta maaf pada mereka.
Apa harus dengan cara seperti ini kalian semua menghukum Bapak? Bapak menyesal, nak. Bapak minta maaf.
Aku yang keras kepala dan egois seperti Pada peristiwa 2 Juni 1994, aku mendapat balasan atas semua perbuatanku. Malam itu riuh suara air naik dengan cepat ke daratan, teriakan, jeritan, dan reruntuhan barang yang saling berbenturan. Aku bersusah payah meneriaki satu persatu nama ketujuh anakku hanyut diempas air malam itu. yang dicambuk oleh takdir.
Entah sebuah keberuntungan atau justru kesialan. Aku selamat dari peristiwa itu. Sebuah tiang besar menjadi tumpuanku menyelamatkan diri dari kuatnya dorongan air yang semakin naik.
Mataku menerawang jauh ke berbagai penjuru, meski yang kulihat hanya mayat yang terapung dibawa arus. Semua terlihat gelap karena listrik padam. Beruntung cahaya bintang masih sudi memberikan sedikit cahayanya untuk manusia sepertiku.
Di bawah langit malam, tubuh ini sudah kehabisan tenaga. Manusia egois sepertiku hanya bisa menangis menyesali perbuatan pecundang yang telah aku jalani bertahun-tahun. Anak-anakku tidak ada yang pulang satu pun, meski aku sudah berusaha untuk tetap membuka mata, mereka tidak pernah datang. Suaraku nyaris habis, hanya sahutan gemuruh air yang terdengar seperti ledekan di telingaku. Mereka sedang menertawakan sosok Bapak brengsek yang tengah menyesali perbuatannya.
Kalau ditakdirkan untuk merasakan kehilangan yang kedua kalinya, aku jelas lebih memilih ikut mati daripada harus bertahan dan hidup dalam kesengsaraan. Melanjutkan hidup tanpa anak-anak di sampingku sama dengan hidup tanpa nyawa.
Jika sampai terbukti tidak ada yang selamat, aku memohon pada Tuhan untuk cabut saja nyawaku sekarang.
Aku benar-benar menyesal setengah mati. Menyesal karena belum sempat meminta maaf pada mereka.
Apa harus dengan cara seperti ini kalian semua menghukum Bapak? Bapak menyesal, nak. Bapak minta maaf.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
B-2025-01518 |
895 LIL l |
Dapat dipinjam | Ruang Baca Umum | Tersedia |
B-2025-01519 |
895 LIL l |
Dapat dipinjam | Ruang Baca Umum | Tersedia |
Format MARC21 - Total 17 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000000004769 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20250908101119 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-0925000066 | 3 |
| 007 | _ |
_ |
ta | 4 |
| 008 | _ |
_ |
250908################g##########1#ind## | 5 |
| 020 | # |
# |
$a 978-623-5953-36-3 | 6 |
| 082 | # |
# |
$a 895 | 7 |
| 084 | # |
# |
$a 895 LIL l | 8 |
| 100 | _ |
# |
$a Lilpudu | 9 |
| 245 | 1 |
# |
$a Laut Pasang, 1994 /$c penulis, Lilpudu; penyunting Ikhwan Pahri, Dian Anggraeni | 10 |
| 250 | # |
# |
$a Cetakan kesepulih, April 2025 | 11 |
| 260 | # |
# |
$a Depok :$b Tekad,$c 2025 | 12 |
| 300 | # |
# |
$a 320 hlm ; $c 20 cm | 13 |
| 650 | # |
4 |
$a Fiksi Indonesia | 14 |
| 700 | _ |
# |
$a Ikhwan Pahri $g penyunting | 15 |
| 700 | _ |
# |
$a Dian Anggraeni $g penyunting | 16 |
| 520 | # |
# |
$a Tahun 1994 adalah tahun paling menyakitkan bagiku. Bahkan, bagi warga di kampungku. Kejadian yang tak disangka kehadirannya merenggut banyak senyum dan kebahagiaan. Aku yang keras kepala dan egois seperti Pada peristiwa 2 Juni 1994, aku mendapat balasan atas semua perbuatanku. Malam itu riuh suara air naik dengan cepat ke daratan, teriakan, jeritan, dan reruntuhan barang yang saling berbenturan. Aku bersusah payah meneriaki satu persatu nama ketujuh anakku hanyut diempas air malam itu. yang dicambuk oleh takdir. Entah sebuah keberuntungan atau justru kesialan. Aku selamat dari peristiwa itu. Sebuah tiang besar menjadi tumpuanku menyelamatkan diri dari kuatnya dorongan air yang semakin naik. Mataku menerawang jauh ke berbagai penjuru, meski yang kulihat hanya mayat yang terapung dibawa arus. Semua terlihat gelap karena listrik padam. Beruntung cahaya bintang masih sudi memberikan sedikit cahayanya untuk manusia sepertiku. Di bawah langit malam, tubuh ini sudah kehabisan tenaga. Manusia egois sepertiku hanya bisa menangis menyesali perbuatan pecundang yang telah aku jalani bertahun-tahun. Anak-anakku tidak ada yang pulang satu pun, meski aku sudah berusaha untuk tetap membuka mata, mereka tidak pernah datang. Suaraku nyaris habis, hanya sahutan gemuruh air yang terdengar seperti ledekan di telingaku. Mereka sedang menertawakan sosok Bapak brengsek yang tengah menyesali perbuatannya. Kalau ditakdirkan untuk merasakan kehilangan yang kedua kalinya, aku jelas lebih memilih ikut mati daripada harus bertahan dan hidup dalam kesengsaraan. Melanjutkan hidup tanpa anak-anak di sampingku sama dengan hidup tanpa nyawa. Jika sampai terbukti tidak ada yang selamat, aku memohon pada Tuhan untuk cabut saja nyawaku sekarang. Aku benar-benar menyesal setengah mati. Menyesal karena belum sempat meminta maaf pada mereka. Apa harus dengan cara seperti ini kalian semua menghukum Bapak? Bapak menyesal, nak. Bapak minta maaf. | 17 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 08 Sep 2025