Detail Katalog
ID: 4769
Judul Katalog
Lembar terkahir : Laut Pasang 3 / penulis, Lilpudu; penyunting Ikhwan Pahri, Dian Anggraeni / Lilpudi ; Ikhwan Pahri ; Dian Anggraeni
Pengarang
Lilpudi ; Ikhwan Pahri ; Dian Anggraeni
Penerbit
Tekad,
Tempat Terbit
Depok :
Tahun Terbit
2025
Bahasa
ind
Subjek
FIksi Indonesia
Detail Teknis
Deskripsi Fisik
320 hlm : ilus ; 20 cm
ISBN
978-623-10-4721-2
Nomor Panggil
895 LIL l
Control Number
INLIS000000000004761
BIB ID
0010-0925000058
Catatan
Sesungguhnya tak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian. Cerita duka akrab terukir dalam hidup Apta Bayu Cokroaminoto. Dimulai dari kepergian sang ibu yang membuatnya hancur berkeping-keping Kabar kematian semakin akrab mengepung, seperti berdesakan merebut perhatian, mata, pikiran, dan hatinya.
Duka kembali hadir saat Tujuh Raga harus berpisah ketika ombak besar Banyuwangi datang menyapanya. Di tengah keputusasaan atas segala kehilangan, secercah harapan muncul saat mengetahui Bapak, Khalid, dan Dewangga selamat. Semangat hidup Apta perlahan menyala kembali.
Namun Duka kembali memainkan perannya, tepat ketika mereka hampir bertemu, ketiga raga keluarga Apta yang tersisa itu pun dijemput Sang Pencipta. Apta mati rasa, kehilangan terburu-buru menggempur hidupnya.
Meski ada orang baru, Bu Anjani dan Kinan yang menemani, Apta harus bertahan hidup sendirian. Apta kini menjadi pemurung dan sering bingung.
Pesan Mbah, "Bagaimanapun takdirnya, Tujuh Raga akan tetap satu jiwa"– selalu terngiang di kepalanya. Mungkinkah ini pertanda bahwa Apta akan menghadap Sang Pencipta?
Duka kembali hadir saat Tujuh Raga harus berpisah ketika ombak besar Banyuwangi datang menyapanya. Di tengah keputusasaan atas segala kehilangan, secercah harapan muncul saat mengetahui Bapak, Khalid, dan Dewangga selamat. Semangat hidup Apta perlahan menyala kembali.
Namun Duka kembali memainkan perannya, tepat ketika mereka hampir bertemu, ketiga raga keluarga Apta yang tersisa itu pun dijemput Sang Pencipta. Apta mati rasa, kehilangan terburu-buru menggempur hidupnya.
Meski ada orang baru, Bu Anjani dan Kinan yang menemani, Apta harus bertahan hidup sendirian. Apta kini menjadi pemurung dan sering bingung.
Pesan Mbah, "Bagaimanapun takdirnya, Tujuh Raga akan tetap satu jiwa"– selalu terngiang di kepalanya. Mungkinkah ini pertanda bahwa Apta akan menghadap Sang Pencipta?
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
B-2025-01510 |
895 LIL l |
Dapat dipinjam | Ruang Koleksi Lantai 2 | Tersedia |