Detail Katalog
ID: 1414
Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan : Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. / Khoirul Anam
Edisi: Cetakan ke-1
Pengarang:
Khoirul Anam
Khoirul Anam
Penerbit:
Cakrawala Jogjakarta,
Cakrawala Jogjakarta,
Tempat Terbit:
Yogyakarta :
Yogyakarta :
Tahun Terbit:
2022
2022
Bahasa:
ind
ind
Subjek
Pancasila - Kebangsaan
Deskripsi Fisik:
xxiii, 141 halaman : - ; 23 cm -
xxiii, 141 halaman : - ; 23 cm -
ISBN:
978-623-7362-50-0
978-623-7362-50-0
Nomor Panggil:
181.16 KHO s
181.16 KHO s
Control Number:
INLIS000000000001413
INLIS000000000001413
BIB ID:
0010-0623000005
0010-0623000005
Catatan
Buku ini membahas sosialisasi "Salam Pancasila oleh Kepala BPIP RI (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia) Prof KH Yudian Wahyudi, Ph.D. dengan menghadirkan 7 (tujuh) pertanyaan tentang perlunya salam kebangsaan di ranah public service, sebagai berikut.
Pertama, mengapa Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri (yang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP) memperkenalkan "Salam Pancasila pada tahun 2017? Kedua mengapa di awal kemerdekaan Presiden Soekarno sudah mensosialisasikan melalui Maklumat 31 Agustus 1945, "Salam Merdeka sebagai salam kebangsaan? Ketiga. mengapa Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, yang kemudian menjadi Presiden ke-4) mengusulkan "Selamat Pagi atau Apa Kabar?" Keempat, mengapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) Daced Joesoef enggan menggunakan salam keagamaan ketika menyambut sebagai menteri, padahal ia adalah seorang muslim dari Aceh? Kelima, di mana posisi Kepala BPIP Yudian Wahyudi dalam sejarah pengusulan salam kebangsaan ini? Jadi, keenam, benarkah Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengusulkan penggantian Assalamualaikum, Wr Wb dengan "Salam Pancasila dalam ibadah mahdoh? Apa pula, ketujuh, kontribusi positif pro- kontra "Salam Pancasila ini bagi kemajuan Indonesia di masa depan?
Dalam rangka menjawab semua pertanyaan di atas, buku ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif analitis dengan dilengkapi teori-teori sosiologi, antropologi, filsafat, bahkan ushul fikih (khususnya pendekatan maqashid syariah sebagai salah satu keahlian utama Prof. Yudian) Pembumian dan sosialisasi Pancasila memang perlu diperkuat dengan argumen teologis sehingga masyarakat Indonesia yang religious dapat dengan mudah menerima nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari keimanan mereka masing-masing seperti semboyan "Hubbul waton minal iman" (Cinta Tanah Air [Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara] merupakan bagian dari keimanan).
Pertama, mengapa Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri (yang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP) memperkenalkan "Salam Pancasila pada tahun 2017? Kedua mengapa di awal kemerdekaan Presiden Soekarno sudah mensosialisasikan melalui Maklumat 31 Agustus 1945, "Salam Merdeka sebagai salam kebangsaan? Ketiga. mengapa Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, yang kemudian menjadi Presiden ke-4) mengusulkan "Selamat Pagi atau Apa Kabar?" Keempat, mengapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) Daced Joesoef enggan menggunakan salam keagamaan ketika menyambut sebagai menteri, padahal ia adalah seorang muslim dari Aceh? Kelima, di mana posisi Kepala BPIP Yudian Wahyudi dalam sejarah pengusulan salam kebangsaan ini? Jadi, keenam, benarkah Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengusulkan penggantian Assalamualaikum, Wr Wb dengan "Salam Pancasila dalam ibadah mahdoh? Apa pula, ketujuh, kontribusi positif pro- kontra "Salam Pancasila ini bagi kemajuan Indonesia di masa depan?
Dalam rangka menjawab semua pertanyaan di atas, buku ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif analitis dengan dilengkapi teori-teori sosiologi, antropologi, filsafat, bahkan ushul fikih (khususnya pendekatan maqashid syariah sebagai salah satu keahlian utama Prof. Yudian) Pembumian dan sosialisasi Pancasila memang perlu diperkuat dengan argumen teologis sehingga masyarakat Indonesia yang religious dapat dengan mudah menerima nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari keimanan mereka masing-masing seperti semboyan "Hubbul waton minal iman" (Cinta Tanah Air [Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara] merupakan bagian dari keimanan).
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
B-2022-00219 |
181.16 KHO s |
Dapat dipinjam | Ruang Baca Umum | Tersedia |
B-2022-00221 |
181.16 KHO s |
Dapat dipinjam | Ruang Baca Umum | Tersedia |
Format MARC21 - Total 16 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000000001413 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20230608121021 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-0623000005 | 3 |
| 007 | _ |
_ |
ta | 4 |
| 008 | _ |
_ |
230608################g##########0#ind## | 5 |
| 020 | # |
# |
$a 978-623-7362-50-0 | 6 |
| 100 | _ |
# |
$a Khoirul Anam | 7 |
| 245 | 1 |
# |
$a Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan : $b Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. /$c Khoirul Anam | 8 |
| 250 | # |
# |
$a Cetakan ke-1 | 9 |
| 260 | # |
# |
$a Yogyakarta :$b Cakrawala Jogjakarta,$c 2022 | 10 |
| 300 | # |
# |
$a xxiii, 141 halaman : $b - ; $c 23 cm$e - | 11 |
| 650 | # |
4 |
$a Pancasila - Kebangsaan | 12 |
| 520 | # |
# |
$a Buku ini membahas sosialisasi "Salam Pancasila oleh Kepala BPIP RI (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia) Prof KH Yudian Wahyudi, Ph.D. dengan menghadirkan 7 (tujuh) pertanyaan tentang perlunya salam kebangsaan di ranah public service, sebagai berikut. Pertama, mengapa Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri (yang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP) memperkenalkan "Salam Pancasila pada tahun 2017? Kedua mengapa di awal kemerdekaan Presiden Soekarno sudah mensosialisasikan melalui Maklumat 31 Agustus 1945, "Salam Merdeka sebagai salam kebangsaan? Ketiga. mengapa Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, yang kemudian menjadi Presiden ke-4) mengusulkan "Selamat Pagi atau Apa Kabar?" Keempat, mengapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) Daced Joesoef enggan menggunakan salam keagamaan ketika menyambut sebagai menteri, padahal ia adalah seorang muslim dari Aceh? Kelima, di mana posisi Kepala BPIP Yudian Wahyudi dalam sejarah pengusulan salam kebangsaan ini? Jadi, keenam, benarkah Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengusulkan penggantian Assalamualaikum, Wr Wb dengan "Salam Pancasila dalam ibadah mahdoh? Apa pula, ketujuh, kontribusi positif pro- kontra "Salam Pancasila ini bagi kemajuan Indonesia di masa depan? Dalam rangka menjawab semua pertanyaan di atas, buku ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif analitis dengan dilengkapi teori-teori sosiologi, antropologi, filsafat, bahkan ushul fikih (khususnya pendekatan maqashid syariah sebagai salah satu keahlian utama Prof. Yudian) Pembumian dan sosialisasi Pancasila memang perlu diperkuat dengan argumen teologis sehingga masyarakat Indonesia yang religious dapat dengan mudah menerima nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari keimanan mereka masing-masing seperti semboyan "Hubbul waton minal iman" (Cinta Tanah Air [Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara] merupakan bagian dari keimanan). | 13 |
| 082 | # |
# |
$a 181.16 | 14 |
| 084 | # |
# |
$a 181.16 KHO s | 15 |
| 990 | # |
# |
$a B-2022-00219 | 17 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 08 Jun 2023