=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000000001413 =005 20230608121021 =035 ##$$a 0010-0623000005 =007 ta =008 230608################g##########0#ind## =020 ##$$a 978-623-7362-50-0 =100 #$$a Khoirul Anam =245 1#$$a Salam Pancasila Sebagai Salam Kebangsaan : $b Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. /$c Khoirul Anam =250 ##$$a Cetakan ke-1 =260 ##$$a Yogyakarta :$b Cakrawala Jogjakarta,$c 2022 =300 ##$$a xxiii, 141 halaman : $b - ; $c 23 cm$e - =650 #4$$a Pancasila - Kebangsaan =520 ##$$a Buku ini membahas sosialisasi "Salam Pancasila oleh Kepala BPIP RI (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia) Prof KH Yudian Wahyudi, Ph.D. dengan menghadirkan 7 (tujuh) pertanyaan tentang perlunya salam kebangsaan di ranah public service, sebagai berikut. Pertama, mengapa Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri (yang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP) memperkenalkan "Salam Pancasila pada tahun 2017? Kedua mengapa di awal kemerdekaan Presiden Soekarno sudah mensosialisasikan melalui Maklumat 31 Agustus 1945, "Salam Merdeka sebagai salam kebangsaan? Ketiga. mengapa Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, yang kemudian menjadi Presiden ke-4) mengusulkan "Selamat Pagi atau Apa Kabar?" Keempat, mengapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) Daced Joesoef enggan menggunakan salam keagamaan ketika menyambut sebagai menteri, padahal ia adalah seorang muslim dari Aceh? Kelima, di mana posisi Kepala BPIP Yudian Wahyudi dalam sejarah pengusulan salam kebangsaan ini? Jadi, keenam, benarkah Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengusulkan penggantian Assalamualaikum, Wr Wb dengan "Salam Pancasila dalam ibadah mahdoh? Apa pula, ketujuh, kontribusi positif pro- kontra "Salam Pancasila ini bagi kemajuan Indonesia di masa depan? Dalam rangka menjawab semua pertanyaan di atas, buku ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif analitis dengan dilengkapi teori-teori sosiologi, antropologi, filsafat, bahkan ushul fikih (khususnya pendekatan maqashid syariah sebagai salah satu keahlian utama Prof. Yudian) Pembumian dan sosialisasi Pancasila memang perlu diperkuat dengan argumen teologis sehingga masyarakat Indonesia yang religious dapat dengan mudah menerima nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari keimanan mereka masing-masing seperti semboyan "Hubbul waton minal iman" (Cinta Tanah Air [Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara] merupakan bagian dari keimanan). =082 ##$$a 181.16 =084 ##$$a 181.16 KHO s =990 ##$$a B-2022-00219