<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000002973</controlfield>
    <controlfield tag="005">20250218101558</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0225000263</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="007">ta</controlfield>
    <controlfield tag="008">250218###########################0#ind##</controlfield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">363.96</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">363.96 CHA p</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Chairunnisa Murniati</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">PERKEMBANGAN MOTORIK, BAHASA, PSIKOSOSIAL BALITA STUNTING :</subfield>
      <subfield code="b">LITERATURE REVIEW /</subfield>
      <subfield code="c">Chairunnisa Murniati</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="250" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jurnal Keluarga Berencana Vol.7 No.01 (2022)</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jakarta :</subfield>
      <subfield code="b">Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,</subfield>
      <subfield code="c">2022</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">11 hlm. :</subfield>
      <subfield code="b">ilus. ;</subfield>
      <subfield code="c">29,7 cm.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">stunting</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">perkembangan anak</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">ABSTRAK &#13;
Stunting telah menjadi kebijakan nasional sejak periode RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka&#13;
Menengah) 2010-2014 melalui sasaran pembangunan pangan dan gizi dengan tujuan menurunkan&#13;
prevalensi kekurangan gizi pada balita, termasuk stunting. Pada RPJMN 2020-2024 stunting kembali&#13;
menjadi isu strategis dengan target prevalensi 14 persen di tahun 2024. Pertumbuhan pada 2 tahun&#13;
pertama merupakan kondisi kritis dalam perkembangan seorang anak karena anak yang mengalami &#13;
kondisi gagal tumbuh, terutama pada usia dini, kemungkinan juga mengalami hambatan pertumbuhan&#13;
organ lainnya termasuk otak. Stunting memiliki dampak terhadap perkembangan anak. Anak stunting&#13;
mengalami perkembangan saraf, IQ dan prestasi belajar di sekolah yang lebih rendah dibanding anak&#13;
normal. Untuk mengidentifikasi perkembangan anak terdampak stunting, literature review dilakukan&#13;
untuk mengetahui perkembangan anak 0-60 bulan yang terdeteksi stunting. Data basis yang kami&#13;
gunakan melalui google scholar, reseach gate, PsychINFO, NCBI, PubMed/Medline, Wiley. Studi&#13;
literatur yang dilakukan mencakup artikel yang membahas perkembangan anak usia 0-60 bulan&#13;
terdeteksi stunting dari aspek motorik kasar, motorik halus, psikososial dan bahasa dengan kriteria&#13;
eksklusi dan inklusi. Hasil studi menunjukkan, stunting mempengaruhi aspek perkembangan anak, karena&#13;
terdapat hubungan kejadian stunting dengan perkembangan kognitif anak. Intervensi yang dilakukan&#13;
untuk mencegah kejadian stunting dilakukan sejak kehamilan dengan memastikan kecukupan gizi pada&#13;
ibu hamil, pemberian ASI dan pemberian MP-ASI yang adekuat pada bayi hingga usia 2 tahun. Upaya&#13;
perbaikan aspek perkembangan anak dapat dilakukan dengan pemberian nutrisi dan kecukupan gizi&#13;
serta stimulasi motorik dan psikososial. &#13;
Kata kunci : stunting, perkembangan anak, motorik kasar, psikososial, motorik halus, perkembangan&#13;
bahasa</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
