<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000002961</controlfield>
    <controlfield tag="005">20250218100143</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0225000251</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="007">ta</controlfield>
    <controlfield tag="008">250218###########################0#ind##</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">2503-3379</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">649.1</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">649.1 DIA f</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Dian Kristiani Irawaty</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Faktor Risiko Buang Air Besar Sembarangan Di Indonesia /</subfield>
      <subfield code="c">Dian Kristiani Irawaty (Penulis)</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="250" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Vol.7 No.2</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jakarta :</subfield>
      <subfield code="b">Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,</subfield>
      <subfield code="c">2022</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">11 hlm :</subfield>
      <subfield code="b">- ;</subfield>
      <subfield code="c">20 cm</subfield>
      <subfield code="e">-</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Kesehatan</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia telah menyebabkan masalah serius tentang buang air besar sembarangan. Indonesia menempati urutan kedua besar prevalensi buang air besar sembarangan di dunia, setelah India. Kotoran manusia dibuang di parit, selokan, teras, padang rumput, hutan, sungai, danau atau ruang terbuka lainnya, sehingga mencemari tata air. Buang air besar sembarangan dapat menyebabkan meningkatnya risiko penularan penyakit diare maupun penyakit anak lain di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai faktor sosial, ekonomi dan demografi penduduk Indonesia yang melakukan buang air besar sembarangan. Data diperoleh dari 49.627 responden rumah tangga Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017. Data diperiksa menggunakan deskriptif dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik buang air besar sembarangan sangat dipengaruhi oleh tempat tinggal, kuintil kekayaan rumah tangga, dan ketersediaan air bersih rumah tangga. Temuan menunjukkan perlunya pembangunan septic tank dan keberlanjutan pasokan air di tempat umum serta di lingkungan miskin untuk menghilangkan buang air besar sembarangan di negara ini.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Perpustakaan BKKBN Pusat</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
