Detail Katalog
ID: 5227
Wiji Thukul : teka-teki orang hilang / Tim penyunting Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG
Edisi: Cetakan kelima
Pengarang:
Tidak tersedia
Tidak tersedia
Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia,
Kepustakaan Populer Gramedia,
Tempat Terbit:
Jakarta :
Jakarta :
Tahun Terbit:
2017
2017
Bahasa:
ind
ind
Subjek
Wiji Thukul, -- 1963-
Deskripsi Fisik:
xii, 160 hlm : ilus ; 23 cm
xii, 160 hlm : ilus ; 23 cm
ISBN:
978-602-424-218-3
978-602-424-218-3
Nomor Panggil:
320.959 8 WIJ
320.959 8 WIJ
Control Number:
INLIS000000000005219
INLIS000000000005219
BIB ID:
0010-1025000274
0010-1025000274
Catatan
Lelaki cadel itu tak pernah bisa melafalkan huruf “r” dengan sempurna. Ia “cacat” wicara tapi dianggap berbahaya. Rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia bukan burung merak yang memesona.
Namun, bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam, dilenyapkan.
Wiji Thukul mungkin bukan penyair paling cemerlang yang pernah kita miliki. Sejarah Republik menunjukkan ia juga bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa. Namun, Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya menakutkan sebuah rezim dan kematiannya hingga kini jadi misteri.
Kisah tentang Wiji Thukul adalah jilid perdana seri “Prahara-prahara Orde Baru” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, Mei 2013. Serial ini menyelisik, menyingkap, merekonstruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan. ; Indeks
Namun, bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam, dilenyapkan.
Wiji Thukul mungkin bukan penyair paling cemerlang yang pernah kita miliki. Sejarah Republik menunjukkan ia juga bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa. Namun, Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya menakutkan sebuah rezim dan kematiannya hingga kini jadi misteri.
Kisah tentang Wiji Thukul adalah jilid perdana seri “Prahara-prahara Orde Baru” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, Mei 2013. Serial ini menyelisik, menyingkap, merekonstruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan. ; Indeks
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
B-2018-00092 |
320.959 8 WIJ |
Dapat dipinjam | Ruang Koleksi Lantai 2 | Tersedia |
Format MARC21 - Total 15 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000000005219 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20251009020243 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-1025000274 | 3 |
| 007 | _ |
_ |
ta | 4 |
| 008 | _ |
_ |
251009################g##########0#ind## | 5 |
| 020 | # |
# |
$a 978-602-424-218-3 | 6 |
| 082 | # |
# |
$a 320.959 8 | 7 |
| 084 | # |
# |
$a 320.959 8 WIJ | 8 |
| 245 | # |
# |
$a Wiji Thukul : $b teka-teki orang hilang /$c Tim penyunting Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG | 9 |
| 250 | # |
# |
$a Cetakan kelima | 10 |
| 260 | # |
# |
$a Jakarta :$b Kepustakaan Populer Gramedia,$c 2017 | 11 |
| 300 | # |
# |
$a xii, 160 hlm : $b ilus ; $c 23 cm | 12 |
| 650 | # |
4 |
$a Wiji Thukul, -- 1963- | 13 |
| 504 | # |
# |
$a Indeks | 14 |
| 520 | # |
# |
$a Lelaki cadel itu tak pernah bisa melafalkan huruf “r” dengan sempurna. Ia “cacat” wicara tapi dianggap berbahaya. Rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia bukan burung merak yang memesona. Namun, bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam, dilenyapkan. Wiji Thukul mungkin bukan penyair paling cemerlang yang pernah kita miliki. Sejarah Republik menunjukkan ia juga bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa. Namun, Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya menakutkan sebuah rezim dan kematiannya hingga kini jadi misteri. Kisah tentang Wiji Thukul adalah jilid perdana seri “Prahara-prahara Orde Baru” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, Mei 2013. Serial ini menyelisik, menyingkap, merekonstruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan. | 15 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 09 Oct 2025