Detail Katalog
ID: 481Cover Tidak Tersedia
Gambar cover belum diupload
Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Lama Kelangsungan Pemakaian Kontrasepsi (Pil, IUD dan Suntik) di Provinsi Jawa Barat Tahun 1997 (Studi Analisis SDKI 1997) / Yoyoh Maesyaroh
Edisi: -
Pengarang:
Yoyoh Maesyaroh
Yoyoh Maesyaroh
Penerbit:
Universitas Indonesia,
Universitas Indonesia,
Tempat Terbit:
Depok :
Depok :
Tahun Terbit:
2002
2002
Subjek
Alat Kontrasepsi
Deskripsi Fisik:
viii + 105 halaman : Ilustrasi
viii + 105 halaman : Ilustrasi
Nomor Panggil:
613.9 072 YOY f
613.9 072 YOY f
Control Number:
INLIS000000000000481
INLIS000000000000481
BIB ID:
0010-0123000281
0010-0123000281
Catatan
Jawa mempunyai jumlah penduduk yang terbesar dibanding dengan provinsi lain. Pertambahan penduduk yang masih tinggi tersebut terlihat dengan masih tingginya angka TFR (Total Fertility Rate yaitu 2,61% dengan ASFR kelompok 20-29 tahun (SDKI, 1997). Cakupan akseptor KB aktif saat ini mencapai 69% dari PUS yang tercatat di Dinas Kesehatan provinsi Jawa Barat. Jenis alat yang paling banyak digunakan adalah suntik, pil dan IUD.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan lama kelangsungan pemakaian alat kontrasepsi. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 1997. Desain peneltian adalah crossectional dengan uji statistik analisis survival.
Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kelangsungan pemakaian alat yang paling lama adalah IUD yaitu sebesar 65%, suntik 40,62% dan pil 34,75% pada interval waktu 1992-1997. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah variabel umur, jumlah anak dan biaya. Pada IUD selain variabel umur dan jumlah anak juga variabel pendidikan sedang pada jenis alat suntik hanya ada dua variabel yang berhubungan yaitu umur dan jumlah anak.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kelangsungan pemakaian kontrasepsi di Jawa Barat mempunyai rata-rata kelangsungan lebih dari 2 tahun dari ke tiga jenis alat. Ditinjau dari umur dan jumlah anak, responden yang memakai kontrasepsi dalam penelitian ini sebagian besar adalah kelompok usia muda 20-35 tahun dengan jumlah anak kurang sama dengan 2.
Upaya yang harus dilakukan oleh petugas lapanga adalah memberikan pembinaan khususnya pada pasangan usia subur terutama pada kelompok pasangan muda yang telah menjadi akseptor maupun belum menjadi akseptor KB tentang tujuan KB dan alat-alat KB. Pembinaan yang dilakukan petugas lapangan kepada calon dan akseptor hendaknya dalam bentuk konseling dan persuasif sedang untuk pihak BKKBN lebih mempromosikan alat KB terutama jenis IUD melalui media elektronik seperti TV, Radio dan pemutaran film tentang program Keluarga Berencana.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan lama kelangsungan pemakaian alat kontrasepsi. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 1997. Desain peneltian adalah crossectional dengan uji statistik analisis survival.
Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kelangsungan pemakaian alat yang paling lama adalah IUD yaitu sebesar 65%, suntik 40,62% dan pil 34,75% pada interval waktu 1992-1997. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah variabel umur, jumlah anak dan biaya. Pada IUD selain variabel umur dan jumlah anak juga variabel pendidikan sedang pada jenis alat suntik hanya ada dua variabel yang berhubungan yaitu umur dan jumlah anak.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kelangsungan pemakaian kontrasepsi di Jawa Barat mempunyai rata-rata kelangsungan lebih dari 2 tahun dari ke tiga jenis alat. Ditinjau dari umur dan jumlah anak, responden yang memakai kontrasepsi dalam penelitian ini sebagian besar adalah kelompok usia muda 20-35 tahun dengan jumlah anak kurang sama dengan 2.
Upaya yang harus dilakukan oleh petugas lapanga adalah memberikan pembinaan khususnya pada pasangan usia subur terutama pada kelompok pasangan muda yang telah menjadi akseptor maupun belum menjadi akseptor KB tentang tujuan KB dan alat-alat KB. Pembinaan yang dilakukan petugas lapangan kepada calon dan akseptor hendaknya dalam bentuk konseling dan persuasif sedang untuk pihak BKKBN lebih mempromosikan alat KB terutama jenis IUD melalui media elektronik seperti TV, Radio dan pemutaran film tentang program Keluarga Berencana.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
B-2002-00005 |
613.9 072 YOY f |
Dapat dipinjam | Tersedia |
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 18 Jan 2023